primaradio.id – Bukan seks yang dilegalkan melainkan kasih yang ditinggikan. Itulah pernikahan.
Warganet maupun pembaca media massa konvensional—baca: Koran—dibuat heboh dengan peluncuran nikahsirri.com. Jika kita membuka situs itu, terpampang foto perempuan cantik dengan tulisan yang cukup menarik perhatian.
“VIRGIN WANTED
No experiences necessary”
Disusul dengan tulisan, “Potensi penghasilan ratusan juta rupiah bagi MITRA kami.” Paling bawah, ada kalimat “NIKAH SIRRI ‘Mengubah Zinah Menjadi Ibadah’”.
Pro-kontra segera saja muncul ke permukaan. Salah satu komentar yang paling banyak ditunggu berasal dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise. “Kami mendesak polisi dan Kominfo untuk menindaklanjuti hal tersebut. Apakah dalam kasus ini terbukti adanya unsur eksploitasi sehingga melanggar pidana dan unsur pelanggaran norma kesusilaan dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik,” demikian komentar Yohana Yembise.
Sahabat saya yang tinggal di Singapura, Heren Tjung, menantang para penulis online untuk menanggapi fenomena ini. Saya memilih angle perspektif pribadi dalam kasus ini.
“Pak Xavier, bagaimana menurut pendapat Bapak jika saya berangkat ke Jepang untuk operasi selaput dara saya?” ujar seorang gadis lulusan luar negeri lugas.
Meskipun biasa bergaul dengan pelajar Indonesia yang kuliah di luar negeri—karena pernah melayani mereka di sana—pertanyaan yang tanpa tedeng aling-aling itu mengagetkan saya juga. Ketika saya tanya alasannya, dengan tersenyum dia menjawab, “Soalnya saya mau segera menikah dan pacar saya tipe cowok konservatif.”
Dari heboh soal lelang keperawanan yang ditawarkan situs nikahsirri dan pertanyaan to the pointdari gadis yang hendak menikah tadi, saya merenungkan, ada kebutuhan serius yang perlu kita pikirkan.
Inilah 5 hasil introspeksi saya.
1. Seks semakin hari semakin terbuka dibicarakan
Ini kabar baik jika dimaknai dengan benar. Mengapa? Banyak orangtua yang takut bicara seks kepada anak mereka karena menganggap bahwa seks itu kotor. Jika seks itu kotor mengapa Tuhan menciptakannya?
Itulah sebabnya mengapa belum lama ini sekolah di mana saya menjadi kepala sekolah mengadakan Sex Education for Children yang menghadirkan pembicara Dr. Agnes Maria dan dr. Jimmy Wahyudi. Yang pertama menyoroti dari segi agama, yang kedua medis.
Saat mengikuti seminar itu, saya merasa bahwa sudah saatnya—atau bahkan sudah terlambat—kita membicarakan seks—khususnya kepada anak-anak—dengan cara yang jauh lebih sehat dan dapat dipertanggungjawabkan. Dari para peserta—murid SD Happy Family School dan para orangtua yang mengikutinya—saya mendapatkan komentar yang positif. “Sekarang saya punya bekal jika anak saya tanya tentang seks. Apalagi dia pun mendapatkan pembekalan dari orang-orang yang tepat,” ujar seorang ibu.
2. Perzinahan dalam agama apa pun jelas berdosa
Bagaimana menyikapi hal ini? Di samping pendidikan seks sejak dini seperti saya uraikan di poin pertama, orangtua, sekolah, masyarakat, dan pemerintah harus bergandengan tangan untuk membuat sosialisasi yang tepat.
Law enforcement sering kali tumpul. Hukum agama pun acap kali dilanggar. Lalu? Kesadaran pribadi yang terus-menerus diajarkan sejak dini adalah salah satu solusi terbaik.
Di Surabaya, CCTV sudah dipasang di berbagai perempatan. Tujuannya? Untuk mengawasi orang-orang yang melanggar lampu merah. Efektif? Untuk sementara, ya. Dalam jangka panjang? Walahuallam.
Di salah satu jalan di perumanan saya ada tanda verboden sampai tiga buah. Di satu sisi ada satu. Di sisi jalan yang lain ada dua. Saya belum pernah melihat di mana pun tanda dilarang masuk sampai tiga seperti itu. Indikasinya? Banyak orang yang melanggar.
Seorang gadis dihentikan oleh polisi. “Adik melihat tanda dilarang masuk?” tanya polisi.
“Lihat, Pak,” jawab gadis itu.
“Kok dimasuki?” kejar polantas.
“Soalnya saya tidak melihat Bapak,” jawab gadis itu malu-malu.
Nah, bukankan pengawasan melekat—yang diaktifkan oleh hati nurani—jauh lebih efektif ketimbang pengawasan dari luar?
3. Biro jodoh dianggap tidak efektif
Menurut pengamatan saya secara pribadi, semakin banyak saja laki-laki atau perempuan yang melajang bukan karena mereka tidak ingin menikah, melainkan belum menemukan pasangan yang cocok. Nikahsirri mengklaim dirinya membantu mempercepat proses ini. Niatnya sih baik, tetapi saya ingin menambahkan, jodoh itu tidak bisa langsung cocok pada pandangan pertama. Apalagi langsung menikah begitu ketemu.
Selama puluhan tahun melakukan konseling muda-mudi dan pranikah, saya mendapati bahwa
Bukan cinta pertama yang berakhir pada pernikahan, melainkan kecocokan jangka panjang.Bukan dua orang sempurna yang menciptakan pernikahan yang baik, melainkan dua orang yang sama-sama berjuang untuk lebih mementingkan kepentingan orang lain ketimbang dirinyalah yang akhirnya bisa membentuk rumah tangga yang langgeng.
Saya suka memakai kata ‘kompatibel’ ketimbang ‘kompetitif’.
4. Materi perlu dalam pernikahan, tetapi bukan segala-galanya
Seorang ibu belia mendatangi saya dengan mata sembap. Dia dilahirkan dari keluarga kurang mampu. Suaminya kaya raya. “Saya kira, saya bisa membahagiakan keluarga dengan menikahi lelaki kaya yang tidak sepenuhnya saya cintai. Dugaan saya salah. Jangankan menolong keluarga saya, untuk menafkahi saya saja suami masih minta donasi orangtua. Saya malu,” ujarnya.
Pasangan suami-istri yang berjuang untuk hidup dengan saling menolong dan menopang satu sama lain sering kali justru menikmati pernikahan yang berbahagia.
Bukan kesuksesan yang membuat kita berbahagia, melainkan kebahagiaanlah yang membuat kita sukses.
5. Pernikahan yang baik bukan seks yang dilegalkan melainkan kasih yang ditinggikan
Orang yang ingin segera menikah agar bisa berhubungan seks secara legal sebenarnya mereduksi bahkan mendegradasi keagungan penikahan.
Pernikahan suci dilandasi oleh kasih satu sama lain yang tidak egois. Seks seringkali hanya dimaknai sebagai pemuasan berahi belaka. Setelah puas, ya sudah. Bagaimana dengan kepuasan pasangan?
Kepuasan berdua—bukan sendiri-sendiri—lah yang seharusnya terus-menerus diusahakan. Apa enaknya bahagia di atas penderitaan orang lain?
Demikian juga keperawanan. Keperawanan—menurut saya pribadi—bukan untuk dilelang, melainkan untuk dipertahankan sampai kita memasuki mahligai pernikahan yang dibingkai kebenaran Firman Tuhan dan diberkati Tuhan sendiri.
Mari kita renungkan bersama. Jika Anda setuju dengan ‘lima sila’ introspeksi saya, silakan men-share-nya. Kiranya Indonesia semakin jaya dan sejahtera!






