
primaradio.id – Menyusuri obyek wisata kota tua di Surabaya tercinta tidak bakal cukup dihabiskan dalam sehari. Memang berbeda dengan obyek wisata alam, wisata kota tua di Surabaya sarat akan bangunan-bangunan lama dengan arsitektur khas Eropa, Tionghoa maupun Timur Tengah.
Bagaimana dengan kegiatan menjelajah beragam obyek wisata tersebut apalagi sudah setahun belakangan ini kita dilanda pandemi Covid-19 yang memaksa kita untuk menahan diri bahkan berhenti total untuk menjalankan rutinitas berwisata.
Freddy H Istanto pemerhati sejarah yang juga merupakan Direktur Surabaya Heritage Society mengatakan, ada tren baru berwisata menyusuri kawasan kota tua Surabaya. yakni dengan bersepeda atau yang lebih dikenal dengan sebutan Nggowes.
“Nggak perlu berkerumun, bisa dilakukan sendiri atau beberapa teman nggowes, “katanya ketika dihubungi reporter Prima Radio.
Inilah keunggulan berwisata di kota tua Surabaya. kebanyakan memang ada di kawasan Surabaya Utara.
“Kawasan kota tua punya nuansa menarik yang menimbulkan emosional, membangkitkan memori masa lalu. Makin asyik sambil berkeliling mengayuh sepeda. Yang penting nggak masuk ke dalam gedung ya. Lebih ke obyek wisata terbuka, “terangnya.
Meskipun menggunakan sepeda motor, saya menyempatkan diri mampir sejenak menikmati Surabaya di malam hari. Penasaran juga sih bagaimana penampakan Kota Tua di malam hari.
Enaknya beberapa diantaranya ada di satu kawasan yang sama. Bangunan lama di kawasan Jalan Rajawali semuanya bergaya kolonial. Berkaitan erat dengan penjajahan kolonial Belanda.
Seperti salah satu obyek yang saya hampiri adalah Jembatan Merah yang ada di dekat Jalan Rajawali.
Sebelum Jembatan Merah, kita bisa menemukan bangunan lama yang sekarang bernama Hotel Arcadia (dulunya Ibis Rajawali) dan juga gedung Cerutu di Jalan Rajawali bersebelahan dengan Hotel Acardia.
Adapun Jembatan Merah sangat lekat dengan perjuangan arek-arek Suroboyo melawan penjajah pada peristiwa 10 November 1945. Sekilas nampak sama saja seperti jembatan lainnya. Namun warna merah yang jadi ciri khas pada pagar pembatasnya.

Persis di depannya ada kawasan Pecinan Kya-Kya Kembang Jepun. Berbeda denghan arsitektur bergaya eropa, memasuki kawasan Kembang Jepun kita akan menemukan ciri khas bergaya Tionghoa yang dikenal sebagai kawasan Pecinan.
Jangan lupa, ketika meyusuri jalan Rajawali sebelum ke melintas Jembatan Merah, tepatnya di gang kiri jalan Rajawali yakni Jalan Garuda, wajib untuk mampir ke Museum Bank Indonesia yang dikenal dengan nama De Javasche Bank. Di sini anda bisa mengetahui sejarah tentang uang yang digunakan sebagai alat pembayaran sejak pertama kali beredar.
Seperti yang sudah saya jelaskan di awal tulisan, tidaklah cukup dalam sehari menghabiskan waktu menelusuri jejak kota lama atau kota tua di Surabaya. apalagi di malam hari. Memang tidak semuanya kawasan kota tua bisa ditelusuri saat malam hari.
Perlu diingat juga, wisata kota lama tidak hanya berkaitan dengan bangunan atau gedung bersejarah, namun berkaitan erat dengan seni dan budaya.
Freddy H Istanto pun membenarkan hal tersebut. Menurutnya traveler jangan hanya mengeksplor soal bangunan lawas di Surabaya.
“Ada seni, budaya dan religi yang harus kita pahami. Kita punya wisata religi Sunan Ampel. Sementara nuansa religi katolik sangat kental melekat pada bangunan gereja Katolik Kepanjen atau Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, “ungkapnya.
Khusus wisata religi Sunan Ampel, tak hanya melulu soal agama. Kawasan ini juga sangat terkenal sebagai sentra kuliner dan souvenir khas Timur Tengah. mulai dari Kurma, Roti Maryam sampai aneka aksesoris khas Timur Tengah.
Supaya puas berkenalan dan mengeksplor lebih jauh soal kota tua Surabaya, sepertinya diagendakan secara rutin supaya semua kawasan kota tua di Surabaya bisa dijelajah dengan seksama dan tak satupun bakal terlewatkan.
Ingat, tetap jaga kesehatan, siapkan stamina prima sebelum menjelajah kota tua, apalagi sambil nggowes. Dan yang tidak kalah penting, tetap patuhi protokol kesehatan. (bee)





