Memilih pasangan hidup jelas tak mudah. Sembarangan memilih pasti salah. Terlalu pemilih tak akan mendapatkan pasangan. Nah, inilah 5 kriteria terpenting demi kebahagiaan pernikahanmu kelak.
Phillip Island. Malam hari.
Saya sedang membaca satu demi satu lembar peserta “Young Professional Camp” yang berasal dari Melbourne dan New Zealand. Di sesi awal, saya meminta peserta untuk menuliskan “Kriteria Pasangan Hidupku”. Nah, berlembar-lembar kertas dari puluhan peserta itulah yang sedang saya pelototi satu per satu. Tiba-tiba, mata saya terpaku pada tulisan seorang gadis. Di urutan pertama dia menulis, “Calon pasangan hidupku haruslah orang yang lebih mencintai Tuhan ketimbang diriku.”
Pernyataan iman yang berani dan tegas. Jujur. Saya salut. Meskipun belum menanyakan alasannya, lulusan salah satu kampus top di Melbourne ini berani mengutamakan Tuhan ketimbang pasangan. Karyawan di sebuah hotel bintang lima di wilayah Victoria ini, menurut saya, cerdas. Jika suaminya lebih mengasihi Tuhan ketimbang dirinya, dia tidak mungkin menelantarkan dan menyakitinya.Bukankah orang yang cinta Tuhan semestinya cinta sesama juga? Lebih-lebih istrinya sendiri!
Berikut 5 kriteria yang seharusnya ada dalam wishing lists setiap orang yang siap memasuki mahligai pernikahan:
1. Calon suami/istriku orang yang rohani, bukan agamawi
Ketika diminta bicara di Bandung, saat menemani saya makan malam, seorang panitia bertanya, “Kapan Pak Xavier full time?” Saya mengerti, maksudnya adalah menjadi rohaniwan sepenuh waktu. Dengan tersenyum saya menjawab, “Bagi saya full heart jauh lebih bermanfaat ketimbang full time!”
Apa gunanya kita memakai tanda-tanda agama secara mencolok tetapi perilaku kita jauh panggang dari api?
Saya pernah tertawa geli saat melihat sebuah mobil dikendarai secara ngawur namun di kaca belakangnya ada stiker berbunyi, “Tuhan ada di mobil ini!”
2. Calon mempelaiku mau menerima aku apa adanya meskipun nanti aku bertambah tua
Dalam perjalanan darat dari Canberra ke Sydney, matahari musim semi mulai undur. Meskipun begitu, sinar mentari masih bisa menerobos kaca mobil, menyentuh lembut wajah istri saya yang pulas di samping saya. Sambil memandang wajah yang tidak lagi muda itu, saya berkata dalam hati,“Terima kasih, San, karena telah menjadi pendampingku yang setia selama bertahun-tahun.”
Wajah boleh renta, namun kasih jangan ikut reyot.
Rasanya baru kemarin saya duduk di sofa pelaminan dengannya. Daun kalender berguguran seakan mengantar musim gugur yang sebentar lagi mampir di benua kangguru ini. Sang Khalik pernah berkata, “Kasih tak berkesudahan.”
3. Calon pendampingku orang yang bukan hanya menerimaku, namun keluargaku juga
Pernikahan bukan hanya ‘mempertemukan’ dan ‘mempersatukan’ dua insan yang saling jatuh cinta, tetapi juga dua keluarga. Saya sering menemui istri yang tidak bisa menerima ibu mertuanya. Mereka tidak bisa mengasihi ibu mertuanya seperti mengasihi ibu kandungnya sendiri. Itulah sebabnya dalam berbagai seminar keluarga, saya selalu tekankan kalimat ini, “Saya lebih suka menggunakanistilah ‘mother in love’ ketimbang ‘mother in law’.
Secara bergurau, saya pancing peserta dengan pertanyaan, “Siapa istri paling berbahagia di dunia?”Ketika melihat wajah-wajah kebingungan – khususnya dari para istri – saya jawab sendiri pertanyaan itu, “Hawa! Karena tidak punya mertua!” Hihihi …
4. Calon belahan jiwaku harus lebih mengasihiku ketimbang anak-anakku
Ketika berbicara di acara keluarga muda di Sydney, seorang bapak – yang baru dikaruniai seorang anak bertanya kepada saya, “Kak Xavier – sapaan yang membuat saya lebih muda hehehe … – siapa yang lebih Kakak kangeni, istri atau anak?”
“Tentu saja anak.”
Jawaban saya itu membuat keningnya berkernyit dan matanya menyala dengan lampu keingintahuan. “Sebab anak adalah anak saya sedangkan istri adalah anak orang lain.” Guyonan saya itu disambut dengan tawa terbahak-bahak.
Pernyataan ini memang menimbulkan kontroversi. Jujur saja, saya pribadi lebih senang untuk mengasihi keduanya, istri dan anak-anak.
Namun, jika harus memilih satu di antara dua, kita seharusnya memilih pasangan kita.
Mengapa? Karena kita sudah dipersatukan menjadi satu daging. Orang Jawa dengan sangat arif berkata, “Garwa” alias “Siganare nyawa” atau “Belahan jiwa.”
5. Calon pendampingku seumur hidup haruslah lebih mengutamakan keluarga ketimbang kerja, apalagi hobi
Seorang istri konseling kepada saya. Sudah bertahun-tahun menikah tetapi mereka belum dikaruniai anak. “Bagaimana kami bisa punya anak jika kami hampir tidak pernah kumpul?” ujarnya dengan mata membasah. “Suamiku gila kerja. Dia lebih betah duduk di depan laptop-nya ketimbang menemaniku tidur.
Aku selalu frustrasi sampai ketiduran menunggunya. Saat bangun pagi, dia masih ngorok di sampingku karena bekerja sampai menjelang dini hari,” sambungnya.
Atas seizinnya, saya panggil suaminya, yang seorang computer programmer. Dia mengakui dirinya sebagai seorang workaholic. “Kalau sudah mengutak-atik program, saya bisa lupa segalanya, Pak Xavier,” ujarnya jujur.
Setelah saya nasihati, tidak lama kemudian, istrinya hamil, yang kemudian disusul dengan kehamilan berikutnya.
Hobi? Boleh. Ninggalin istri karena hobi? No Way!
Bukan hanya pekerjaan, hobi pun bisa menjauhkan kita dari pasangan hidup. Ketimbang alergi dengan hobi pasangan, alangkah indahnya jika mencoba untuk memahami hobi masing-masing dan tetap saling mengasihi. Istri saya, sangat memahami hobi saya. Ketika meminta saya menemaninya untuk urusan yang menyita cukup banyak waktu: ke dokter gigi, istri saya sering bertanya, “Sudah membawa buku?” Hehehe …






