primaradio.id – Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.
Setiap kali saya mengkonseling pasangan suami-istri yang hendak bercerai dan berhasil membuat mereka batal cerai, saya bahagia sekali. Saya pulang ke rumah dengan hati berbunga-bunga. Bagi saya, menyelamatkan satu saja pasangan suami-istri yang hendak bercerai bisa membuat perbedaan, paling tidak bagi pasangan suami-istri itu sendiri dan lingkaran keluarga besar masing-masing pihak.
Dari sekian puluh tahun melakukan konseling dan merenungkan dalam-dalam prosesnya, saya menemukan ini:
Ternyata hanya satu hal ini saja yang paling efektif mencegah perselingkuhan dan perceraian.
Apa itu? Ini:
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”
Kaidah Emas Guru Agung.
Apa Anda mau dinomorduakan?
Peristiwa ini terjadi sudah lama. Suatu kali saya mendengar kabar bahwa sahabat saya selingkuh. Waktu itu dia memang belum menikah, tetapi sudah punya pacar. Ketika saya konfirmasi, dia menjawab enteng, “Ah, untuk cadangan saja. Siapa tahu dengan yang ini tidak jadi.”
Saya shock mendengar ucapannya itu. “Kalau pacarmu juga punya cadangan, apa engkau bersedia?”
“Tidak!” jawabnya dengan cepat dan tegas.
“Jika begitu, mengapa engkau memperlakukan pacarmu demikian?”
Dia berhenti selingkuh.
Kalau Anda punya anak, apakah Anda rela menantu Anda selingkuh?
Semua orang yang saya tanyai pertanyaan itu menggeleng. “Saya tidak ingin anak saya menderita,” begitu rata-rata jawaban mereka. Bahkan ada yang dengan keras berkata, “Saya akan labrak menantu saya!”
“Jika itu yang menjadi kepedulian Anda, mengapa Anda sendiri memberi contoh yang buruk?”
Atas pertanyaan to the point saya itu, mereka rata-rata menundukkan kepala, banyak di antaranya menangis sesenggukkan. Tidak peduli pria maupun wanita. Mereka merasa terhina jika menantunya selingkuh. Siapa yang terima jika anaknya diabaikan?
Jika sudah begitu, mengapa kita tidak mendidik anak kita untuk tidak mengabaikan orang lain?
Jika orang tua Anda selingkuh, bagaimana perasaan Anda?
Malu. Hancur. Marah. Sedih. Perasaan itu bercampur aduk dan membuat hidup tidak lagi indah, bukan?
Kita sadari atau tidak, perselingkuhan dan perceraian berdampak buruk bagi anak-anak kita. Berapa banyak anak korban perselingkuhan dan perceraian yang akhirnya ‘mengadopsi’ gaya hidup itu sehingga mereka pun pada akhirnya menjadi pelaku atau korban perselingkuhan dan perceraian?
Jika kita merasa tidak nyaman saat mendapati orang tua kita selingkuh atau cerai, mengapa kita tidak menjagai rumah tangga kita sendiri agar terhindari dari momok yang menghantui setiap anak yang jadi korban?
Inilah contoh pasangan suami-istri yang saya minta untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan di atas.
Sepasang suami istri datang kepada saya untuk konseling. Konseling berjalan dengan alot. Sang suami sudah meminta maaf, tetapi istrinya tetap menuntut cerai.
“Setiap kali saya mengingat suami saya selingkuh, saya jijik dengannya. Saya tidak mau lagi disentuh olehnya,” ujar ibu muda itu dengan wajah membara. “Saya masih muda dan bisa menentukan masa depan saya sendiri!”
Sang suami yang ada di sampingnya menangis. Dia tidak malu lagi menangis di depan saya dan istrinya. Namun, tampaknya hati istrinya bergeming. Sikapnya tetap keras. Dia menuntut cerai. Dengan berbagai cara saya mencoba menyadarkannya akan dampak buruk perceraian, namun tidak membuahkan hasil.
Di situasi yang sungguh tidak nyaman itu, tiba-tiba saya berkata, “Coba kalian dengarkan saya untuk terakhir kali. Kalian datang kepada saya untuk mencari kebenaran, bukan pembenaran.”
Saya menoleh ke sang suami dan berkata, “Bapak sudah merasakan sendiri betapa tidak nyamannya rumah tangga Bapak setelah Bapak ketahuan selingkuh. Ibu sudah memutuskan untuk bercerai. Saya minta ketegasan sekali lagi. Apakah Bapak sungguh-sungguh mau berhenti dan berjanji memulai hidup baru bersama istri?”
Bapak di depan saya menangis lebih keras lagi. Dia memegang tangan saya erat-erat dan mengucapkan janjinya. Saya pandang matanya. Ada kesungguhan di sana.
Lalu saya menoleh ke istrinya dan berkata, “Ibu, terakhir kalinya saya tanya Ibu. Apakah Ibu benar-benar siap menjalani hidup sendiri tanpa suami? Bagaimana dengan masa depan Karunia? [Karunia adalah nama samaran untuk anak gadis kecil mereka]. Apakah Ibu tega memisahkan Karunia dengan ayah yang dicintainya?”
Sampai di sini, pertahanan ibu itu jebol. Dia yang tadinya tegar sekali, kini mulai menangis.
Saya biarkan mereka berdua menangis. Di tengah ‘permusuhan’ itu, saya melihat sesuatu yang indah. Tiba-tiba sang suami menarik tubuh istrinya. Kali ini istrinya tidak menolak. Sambil berpelukan dan memberi kekuatan satu sama lain, mereka menangis.
Tanpa terasa mata saya menghangat. Saya ikut menangis.
Sesi konseling hari itu berakhir bahagia. Saya minta mereka meletakkan kedua telapan tangan mereka di depan saya dengan saling memegang dan saya menaruh tangan saya di atas tautan kedua tangan mereka. Saya doakan agar mereka bisa melepaskan pengampunan dan menyerahkan proses kesembuhan luka batin mereka ke tangan Sang Khalik yang Maha Pengampun.
Sebulan kemudian, saya bertemu mereka bertiga – suami, istri dan Karunia – di sebuah mal. Mereka tampak bahagia. Begitu bersua, mereka menghampiri saya dan dengan tulus mengucapkan terima kasih mereka.
Saya peluk Karunia kecil dengan penuh kasih. “Karunia mengasihi Papa dan Mama, kan?” tanya saya.
Gadis mungil dengan dua kepang itu mengangguk. So cute!






