primaradio.id – Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional terutama dalam kondisi saat ini.
Berbagai cara kreatif dilakukan oleh pelaku usaha agar bisnis yang dijalakan tetap bertahan.
Hal ini tidak lepas dari sosok-sosok perempuan tangguh dibalik usaha tersebut.
Dengan semangat Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret serta Hari Kartini pada 21 April, Cendera.mata HoS menyelenggarakan Table Top “Hai Perempuan” bekerjasama dengan 8 UMKM yang dikelola perempuan Surabaya .
Rani Anggraini, Manager House of Sampoerna mengatakan program ini diselenggarakan pada tanggal 31 Maret – 30 April 2021.
“Bagi sahabat HoS yang berminat, dapat belanja dari rumah dengan melihat contoh produk dan langsung memesan ke masing-masing kontak UMKM yang tertera pada website www.houseofsampoerna.museum, “ujarnya.
Adapun mitra UMKM yanh bergabung adalah Batik Banyu Urip, Bengkel Kriya Daun, Dingklik Java Ethnic, Handy Mondy, Jay Way Handicraft, Kabuta, Leny’s Collection, dan RSTM.
Diketahui, Cendera.mata HoS sejak 2009 mengangkat konsep baru sebagai salah satu pusat penjualan dan promosi produk dan kerajinan para pengusaha muda dan UMKM Jawa Timur, seperti kaos dan cinderamata khas Surabaya, batik, tenun dan kerajinan Jawa Timur, serta buku karya penulis Jawa Timur.
Secara berkala Cendera.mata HoS juga menggelar bazar dan Table Top beragam produk UMKM.
Berikut profil 8 UMKM yang Ikut dalamTable Top “Hai Perempuan” :
Banyu Urip
Batik Banyu Urip berdiri pada tahun 2013. Awalnya, Sunarsih mengikuti program pelatihan Pahlawan Ekonomi Surabaya. Pada 2010, Sunarsih juga mengikuti program pemberdayaan perempuan berbasis komunitas bersama lima rekannya di UMKM Warna Ayu. Berangkat dari keinginannya untuk berkembang dan mandiri, sehingga pada tahun 2013 memutuskan untuk berpisah dengan kelompoknya. Sunarsih memiliki visi untuk fokus mengembangkan batik Nusantara menjadi trademark keluarganya. Di tangannya Batik Banyu Urip memiliki aneka produk seperti baju batik untuk pria dan wanita, kain batik, tas, dompet, syal dan kemeja.
Bengkel Kriya Daun
Berawal dari ide mendiang suami Siti Retnanik (Nanik) untuk mengumpulkan daun kering di tahun 1996, Nanik membuka usaha kerajinan tangan Bengkel Kriya Daun. Pada tahun 1997, Nanik mulai berkreasi membuat kartu ucapan dari daun kering kemudian kotak tisu. Hasil kreasinya mendapatkan respon baik dari masyarakat, lalu produksinya bertambah menjadi tas, dompet, bross, tempat tisu dan lukisan. Meski terlihat sederhana, usahanya telah sampai ke luar negeri. Sudah lebih dari 10 tahun, Bengkel Kriya Daun menjadi pemasok kotak abu berlapis daun ke London.
Dingklik Java Ethnic
Dingklik Java Ethnic didirikan pada tahun 2015 oleh Sri Marilin yang berlatar belakang pendidikan fashion. Awalnya didirikan dengan nama “Ting Handycraft” yang memproduksi aksesoris, lalu berubah nama menjadi Dingklik Java Ethnic dengan fokus usahanya membuat sandal hias, tas dan dompet dengan motif batik dan budaya Jawa. Dingklik mengedepankan produk yang inovatif, kreatif, dan berkualitas unggul sehingga mampu menjangkau pasar luar negeri.
Handy Mondy
UMKM ini dulunya bernama Vimo Fun Clay yang didirikan oleh Monica Harijati tahun 1996.
Vimo Fun Clay bergerak pada usaha kerajinan tangan dari adonan clay dan berhasil memenangkan beberapa penghargaan. Salah satunya lomba suvenir Indonesia tahun 2003 di Jakarta. Tidak hanya itu, Monica memperdalam dunia kuliner dari pelatihan program Pahlawan Ekonomi Surabaya pada tahun 2010 dan berhasil menjadi juara pada tahun 2012. Kemudian pada tahun 2018, dengan bantuan anaknya Joana Bernice, Monica mengembangkan usahanya dan berganti nama menjadi Handy Mondy.
Jay Way Handicraft
Jay Way Handicraft yang diprakarsai oleh Yayuk Widayati ini memproduksi berbagai produk fashion dan aksesoris seperti tas, dompet, clutch dan bross. Yayuk juga menyulap bahan seperti karung goni, anyaman pandan, kulit kayu yang dipadukan dengan batik atau brokat dengan teknik sospeso sehingga menghasilkan produk yang luar biasa. Dirinya memiliki visi untuk menghasilkan produk yang eksklusif dan sesuai dengan kepribadian pelanggannya. Selain itu di masa pandemi, Yayuk juga mengembangkan usahanya ke bidang kuliner dengan brand “Like Eat” dengan menu andalan Nasi Kelor dan Nasi Rempah.
Kabuta
Kabuta dimulai pada tahun 2012 oleh Diana Sari Novianti yang hobi membuat aksesoris untuk dikenakan putrinya, seperti jepit rambut dan kaos sulam perca. Tak disangka, hasil karyanya banyak diminati sehingga mulai dijual ke masyarakat luas. Sampai saat ini produknya sudah bermacam-macam seperti tas, bantal, kaos, handuk yang semuanya menggunakan aplikasi sulam perca. Diana juga melebarkan sayapnya ke dunia kuliner semenjak pandemi Covid-19. Salah satu menu andalannya adalah kue pukis dengan brand “Pukis Dnana”.
Leny’s Collection
Pada tahun 2013, Leny memulai usahanya dengan membuat sulaman pita, aksesoris manik-manik dan berbagai suvenir lainnya. Setelah mengikuti berbagai macam pelatihan yang diadakan oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat (BAPEMAS) Kota Surabaya, akhirnya pada tahun 2015 Leny mendirikan Leny’s collection yang memilih eceng gondok dan batang pisang sebagai spesialisasinya. Ide ini berasal dari bahaya eceng gondok sebagai hama dan membuat sungai menjadi dangkal. Dengan tangannya Leny membuat suvenir cantik dan ramah lingkungan.
RSTM
Kristyana mendirikan RSTM pada tahun 2016. RSTM dikenal sebagai brand lokal untuk suvenir kaos di Surabaya dengan desain bludru seperti velvet. Hadir dengan desain yang simpel dan elegan cocok untuk segala usia serta nuansa Surabaya yang otentik. Saat ini RSTM juga menerima pesanan khusus untuk acara keluarga, perusahaan dan komunitas. Uniknya setiap produk yang dipesan melalui RSTM dapat dikemas cantik menjadi hampers dan cocok untuk dijadikan hadiah. (bee)






