primaradio.id – Melihat kemenangan National Costume dalam ajang Miss Universe 2021 beberapa waktu lalu, yang dimenangkan oleh Miss Universe Myanmar terlihat bahwa konsep busananya adalah busana daerah di negara tersebut.
Hampir semua dari peserta menggunakan nasional kostumnya berupa busana kostum dengan konsep-konsep yang dibuat khusus untuk merepresentasikan negaranya masing-masing.
Seperti halnya Indonesia, National Costume yang mengangkat isu Pulau Komodo yang hangat beredar di dunia maya seperti pulau yang di jual, pembebasan lahan, revitalisasi dan sebagainya. Bahkan negara tetangga Malaysia yang mengangkat toleransi budaya seperti China, India, Sarab, dan Melayu. Masih banyak kosnep-konsep kostum yang ditampilkan untuk mengangkat masing-masing negara peserta.
Perjalanan panjang kategori nasional kostum dalam ajang Miss Universe ini yang dimulai dengan memperagakan busana daerah dari masing masing negara, yang kemudian berkembang menjadi ajang busana kostum seperti carnival.
Kemenangan Miss Myanmar dalam katagori nasional kostum membuat saya tergelitik untuk mengangkat satu dari sekian banyak busana daerah di Indonesia tampil lebih elegan sebagai nasional kostum.
Keragaman busana daerah di Indonesia tidak saja dari budayanya yang banyak dari ujung Pulau Sumatera hingga ujung Pulau Papua, tetapi keragamanya dapat dilihat dari kebutuhannya.
Kebutuhan busana daerah di Indonesia bisa dilihat dari busana adat kerajaan,busana adat Perkawinan, Busana adat ikon yang kesemuanya dibatasi dengan usia, gender, dan strata sosial ekonomi.
Kali ini desainer Embran Nawawi menjelaskan kalau ia mencoba mengangkat busana daerah dari Madura yang cukup ikonik yaitu SAKERA dan MARLENA.
Busana daerah yang dikenal melalui acara-acara budaya di televisi sejak dahulu kala, hingga busana pria nya yaitu sakera dikenal dengan busana Tukang sate, yang juga sempat dipakai oleh Miss Grand Indonesia diajang international. Selain itu busana Marlena yang kerap dikenal dengan busana tukang rujak dalam beberapa peran disketsa drama.
“Saya mulai dengan busana Marlena yang memang masih dikenakkan oleh wanita madura dalam beberapa perayaan budaya baik di Madura itu sendiri maupun di luar Madura, “jelasnya.
Busana yang sangat dikenal terdiri dari Kebaya berwarna merah dengan kain batik yang dikenakan sekana nya juga berwarna merah. Busana ini dilengkapi dengan sanggul teleng atau sanggul miring, Binggel atau gelang kaki, Dinnar atau peniti emas berbentuk uang dinar, dan Gibang atau Giwang yang jiga terbuat dari emas. Gaya busana daerah seperti ini kemudian saya rubah tanpa mengurangi esensi dari gaya Marlena tersebut dengan membuat kain Batik Merah yang saya buat mengembang dan berekor, kemudian kebaya merahnya dibuat lebih modern untuk memberi kesan gaya berbusana masa kini yang dilengkapi dengan aksesoris emas dari kepala hingga kaki (seperti dalam gambar).
“Yang cukup menarik buat saya adalah saat merubah gaya tukang sate atau carok pada busana Sakera yang berupa baju hitam hitam dengan kaos garis merah putih, “tambahnya.
Pertama saya mengganti Pesak atau jaket sederhana berwarna hitam dengan kemeja transparat dari bahan lace yang bertujuan agar masih bisa mengangkat Bhelleng atau kaus merah putih untuk tetap terlihat. Utuk bagian celana yang biasa disebut Ghombor tidak saya ganti tetapi saya tambahkan dengan kain batik yang serupa dengan batik Marlena, tetapi sabuk seperti sabuk jampang saya ganti dengan obi berwarna hitam putih. Melengkapi penampilan Sakera inin tetap dilengkai dengan Odheng atau ikat kepala dan Pecut yang seharusnya celurit.
“Dengan sedikit merubah gaya berbusana daerah madura SAKERA dan MARLENA ini dapat dilihat perubahan yang saya rasa cocok untuk kembali dikenalkan kepada anak muda se Indonesia, bahkan bisa juga untuk menjadi alternatif National Costume dalam ajang Internasional. Karena sebenarnya busana adalah sebuah artefak hidup yang berkembang sesuai perdaban manusia di setiap zamannya, “pungkas Embran. (bee)






