primaradio.id – Anda adalah apa yang Anda pilih.
Seorang rahib yang sedang dalam perjalanan mendaki gunung menemukan sebuah batu berharga di sebuah aliran sungai. Keesokan harinya dia bertemu dengan seorang pengembara yang kelaparan, dan rahib itu membuka tasnya untuk berbagi makanan. Pengembara yang kelaparan itu melihat batu mulia yang ada di dalam tas rahib itu, mengaguminya dan meminta batu itu. Tanpa ragu-ragu, rahib itu langsung memberikan batu itu kepadanya.
Pengembara itu pergi dan bersukacita karena memperoleh barang berharga dengan begitu mudah. Dia tahu permata itu cukup bernilai untuk memberinya keamanan finansial seumur hidupnya.
Namun, beberapa hari kemudian dia kembali untuk mencari rahib itu. Saat menemukan rahib itu, dia mengembalikan batu itu dan berkata, “Saya berpikir keras. Saya tahu betapa berharganya batu ini, tetapi saya kembalikan kepadamu dengan harapan engkau dapat memberiku sesuatu yang jauh lebih berharga. Jika engkau bersedia, beri aku apa yang ada di dalam hatimu sehingga memampukanmu untuk memberikan batu ini kepadaku dengan begitu mudahnya.”
Kisah yang saya baca di buku ‘The Best of Bits & Pieces’ ini menunjukkan pergumulan dan pencarian manusia terhadap nilai yang paling hakiki di dalam hidupnya. Seorang suster Teresa harus meninggalkan zona nyaman hidupnya untuk melayani seumur hidup di wilayah yang paling kumuh di India untuk menemukan makna hidupnya.
Victor Frankl, di dalam bukunya ‘Man’s Search for Meaning’, yang terbit sebelum saya dilahirkan, menceritakan bagaimana dia bisa tetap ‘waras, eling lan waspada’ saat berada di kamp konsentrasi paling mengerikan di dunia. Dia menemukan logotherapy. Baginya Firman Tuhan di dalam Alkitab tidak saja membuatnya tetap bertahan hidup, tetapi juga bagaimana mengisi hidup yang bermakna.
Di dalam pencarian akan makna hidup yang sejati, tidak setiap orang berakhir di ujung yang sama.
Setiap kita memiliki prioritas hidup dan pilihan hidup yang berbeda-beda. Kisah tiga orang yang terdampar di sebuah pulau terpencil tak berpenghuni dengan bagus sekali menggambarkan hal ini.
Karena menganggur, mereka bertiga menjelajahi setiap sudut pulau itu untuk menemukan apa saja yang bisa dimakan atau bisa dipakai sebagai sarana untuk kembali ke dunia yang beradab. Saat menemukan ‘lampu ajaib tanpa Aladin’, masing-masing mengajukan keinginannya.
Orang pertama minta supaya dikembalikan ke tempat asalnya. Orang kedua meminta harta benda yang melimpah dan dikembalikan ke tempat asalnya. Orang yang ketiga, saat ditanya apa permintaannya menjawab, “Saya merasa kesepian di sini. Tolong kembalikan kedua sahabat saya itu ke sini sekarang juga!”
Meskipun tampak absurd dan vulgar, permintaan orang ketiga ini menunjukkan bahwa, “Di mana hartamu berada, di situ hatimu berada.” Pilihan kita secara langsung menunjukkan siapa diri kita yang sebenarnya. Anda adalah apa yang Anda pilih. Jadi, memilihlah dengan bijak dan temukan makna hidup Anda yang sebenarnya.






