Tolong saya. Rumah tangga saya di ambang kehancuran. Suami saya gay.
primaradio.id – Saya sudah siap naik panggung dalam rangka perayaan hari besar nasional di sebuah stadion ketika telepon genggam saya bergetar. Mula-mula saya abaikan, tetapi karena terus-menerus bergetar, saya angkat juga.
“Pak Xavier, tolong saya. Rumah tangga saya di ambang kehancuran.
Saya tidak menduga, ternyata suami saya gay,”
ujar suara wanita di ujung telepon.
Jujur saja, telepon itu mengganggu konsentrasi saya. Stadion sudah dipenuhi orang. Panitia sudah mengingatkan saya untuk siap-siap naik panggung. Agar kasusnya segera ditangani, saya menganjurkannya untuk menemui sahabat saya yang tinggal sekota dengannya.
Dalam perjalanan saya sebagai konselor, paling sedikit empat kali saya dihubungi untuk mengkonseling istri yang suaminya gay. Saya katakan sejak awal, saya bukan pakar LGBT. Saya punya beberapa teman yang dianggap ‘liyan’ oleh masyarakat ini. Saya bisa bergaul dengan mereka dengan baik.
Berdasarkan percakapan dengan para istri yang mengaku suaminya gay, dengan pertimbangan untuk menjadi bahan perenungan, ada 3 hal tidak mudah yang bisa istri lakukan.
1. Terima Apa yang Sudah Terjadi
“Apakah Ibu sudah tahu kalau calon suami Ibu homo?” Atas pertanyaan itu, hampir semuanya, kecuali satu, yang berkata, “Saya tidak tahu.” Artinya, para istri menjadi korban. Yang satunya hanya berkata, “Saya curiga saja tetapi tidak menduga sampai sejauh itu.”
Jika pernikahan sudah terjadi, dan perceraian bukan pilihan terbaik, maka bertahan menjadi hal yang perlu dipertimbangkan.
Mudah? Tidak! Sebaliknya, sukar sekali. Karena kekuatan kita sangat terbatas, agar mampu menghadapi kejutan yang sama sekali tidak menyenangkan ini, kita perlu merengkuh kekuatan dari atas yang tidak terbatas: dari Tuhan sendiri.
Mukjizat bisa terjadi. Di antara empat orang yang berbagi cerita, ada sepasang suami-istri yang menunjukkan perubahan yang menggembirakan. Dengan pertolongan Tuhan, tekad suami yang kuat, dan kasih istri yang begitu besar, sang suami bisa melepaskan kehidupan gay-nya.
2. Jangan Menghakimi apalagi Memaki
Sang Khalik meminta kita untuk mengasihi sesama, apalagi suami. Para istri yang tahu suaminya gay, mula-mula shock dipenuhi rasa ketidakpercayaan, menyalahkan diri sendiri yang ‘begitu bodoh sehingga bisa dikelabui’ sampai berniat untuk menceraikan suaminya. Dengan tetesan air mata, para istri itu ingin lepas – tepatnya dilepaskan – dari masalah yang menjadi ‘duri dalam daging’ mereka. Kata-kata penuh sesal, amarah sampai sumpah serapah seringkali keluar dari mulut karena merasa tertipu mentah-mentah. Lewat beberapa kali pertemuan, saya meyakinkan mereka bahwa sikap dan tindakan semacam itu justru kontraproduktif. Kesadaran inilah yang membuat mereka berubah dari menghakimi menjadi mengasihi.
Suami yang merasa dikasihi – bukan saja oleh istri tetapi juga oleh anak – mempunyai kans untuk berubah.
3. Bersama-sama Menghadapinya
Saya bersedia mendampingi istri yang suaminya gay dengan satu syarat: sang istri harus bisa melepaskan diri dari rasa mengasihani diri dan punya kasih yang besar untuk menolong suaminya.
Saya juga yakin,
setiap orang bisa berubah jika mau berubah dan menjalani proses perubahan itu bersama Tuhan.
Ketika pasangan suami-istri sepakat untuk menjalani proses ini dengan kesabaran dan tekad yang kuat, pemulihan bisa terjadi. Jika pasangan ini sudah mempunyai anak yang cukup besar, anak [anak-anak] perlu dilibatkan.
Seorang sahabat saya, dengan ketekunan yang luar biasa untuk mencari Tuhan dan berserah kepada kehendak-Nya, berhasil melewati masa-masa yang sukar ini. Sekarang, bukan saja dia sudah bisa move on, melainkan mengisi hari-harinya menjadi seorang inspirator yang dikenal memiliki pemikiran yang mendalam. Saya pun berharap, sharing para istri yang suaminya kedapatan gay ini bukan untuk menghakimi para suami, apalagi menyalahkan terus-menerus, melainkan mendampingi mereka melewati hari-hari yang sukar. Bukankah Guru Agung justru membuka tangan-Nya lebar-lebar dan berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”






