primaradio.id – Sejak jembatan nasional Suramadu di resmikan, seolah icon besar Indonesia ini tidak pernah terlihat pengembangan dan pembangunan yang signifikan. Kawasan Suramadu yang semestinya dapat menjadi sasaran berinvestor, seolah tak muncul ke permukaan. Melihat beberapa kota besar di dunia, kawasan yang setalu menjadi pusat bisnis, hunian, komersil, hiburan dan wisata adalah kawasan tepi laut (water front development). Kita lihat saja “Canary Wharf” salah satu bagian kawasan “London Docklands”. Di sana terlihat di tepian air banyak gedung perkantoran serta kondominium.
Pemerintah Kota Surabaya tampak serius mengembangkan waterfront city di Surabaya. Hal ini terlihat dari pernbangunan Kenjeran yang semakin tertata, dengan berdiri Jembatan Suroboyo dan Kawasan Sentra Ikan Bulak, beberapa rencana pemerintah kota untuk membangun jalan baru yakni outer east ring road (OERR) yang melintas sasi Utara hingga timur velodrome dan lapangan tembak.
Pemerintah kota Surabaya juga akan mengembangkan wisata di Suramadu, dengan akan dibangunnya kereta gantung yang melintasi sisi Timur hingga ke barat Suramadu sepanjang kurang lebih 700 meter untuk tahap pertama. Pemerintah kota juga berencana akan menghadirkan sebuah kawasan wisata kuliner yang akan menjadi pilihan baru bagi warga kota untuk menikmat indahnya laut Surabaya. Pemerintah pusat pun ikut serta dalam pengembangan Suramadu dengan menggratiskan jembatan Suramadu. Hal ini akan berdampak semakin ramainya volume kendaraan yang melintas yang secara otomatis akan menghidupkan roda perekonomian masyarakat sekitar dan akan mengundang investor.
PT PP Properti TBK akan mengembangankan waterfront city pertamanya ditanah seluas 5.6 ha yang berada tepat di sisi timur dan barat Jembatan Suramadu. Proyek yang diberi nama Grand Sagara ini akan menjadi sebuah icon baru di kota Surabaya. Proyek ini akan menjadi pilihan baru bagi warga Surabaya dan sekitarnya. Hadirnya Grand Sagara akan menjadi harapan baru untuk masa depan Suramadu.
Mengusung konsep It’s a Journey From the mountain to the Sea, Grand Sagara menyuguhkan sebuah kawasan Residential, Area retail, Convention hall, Hotel, dan pusat perkantoran. Konsep ini akan membawa anda menjelajahi perjalanan dari sebuah gunung yang menenangkan, lembah yang indah untuk berkumpul dengan keluarga dan kerabat, serta konsep hamparan hutan mangrove dan laut yang menyambut anda setiap hari. Pembangunan Grand Sagara akan di bagi melalui beberapa fase.
Direktur Realty PT PP Properti Galih Saksono mengatakan nantinya akan ada 12 tower, dan yang pertama diluncurkan adalah untuk kelas middle atau menengah. “Harganya 350 juta. Untuk masyarakat middle bahkan middle low. Karena market middle saat ini sangat seksi, ungkap Galih.
Selain itu, dengan naiknya GDP tiap daerah, makan akan turut mendorong segmen middle low ke kelas lebih tinggi. Galih juga menambahkan, golongan milenial saat ini sedang berkembang, dan akan ikut terdorong serta mempergemuk volume di kelas middle.
Adapaun Direktur Pengembangan Bisnis Grand Sagara Charles Indomora menambahkan untuk fase pertama yang akan di pasarkan adalah Adriatic tower, dengan kapasitas 1.040 unit sudah mulai dipasarkan. “Nantinya masyarakat yang tinggal di Grand Sagara, serasa menikmati liburan setiap hari tanpa perlu ke Bali. (bee)






