primaradio.id – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) mencatat jumlah harimau sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) di wilayah konservasi di Provinsi Sumatera Utara hanya tersisa delapan ekor. Berkurangnya populasi harimau itu karena tingginya konflik antara manusia dengan harimau di wilayah tersebut, lantaran pembukaan lahan yang mengganggu habitat harimau sumatera.
Sementara warga yang merasa terancam dengan keberadaan harimau, akan membunuh satwa langka yang dilindungi Undang-Undang tersebut. Padahal, BBKSDA sudah mensosialisasikan agar tidak membunuh satwa yang sudah terancam punah tersebut.
Menurut Kepala BBKSDA Sumut John Kenedie mengatakan bahwa pihaknya rutin mensosialisasikan kepada warga, Polisi dan TNI agar tidak membunuh harimau jika terjadi konflik. Saat ini, jumlah harimau sumatera di wilayah konservasi Sumut hanya tersisa sekira delapan ekor. Jika tidak ada penanganan khusus terkait konflik, dikhawatirkan harimau sumatera akan punah.
John juga menambahkan, satwa ini sudah sangat langka. Di dalam wilayah konservasi total jumlahnya sekira delapan ekor, tidak sampai 10. Sedangkan di luar konservasi belum dihitung.






