primaradio.id – Badan Pusat Statistik Jawa Timur melaporkan, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sepanjang tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar -2,39 persen.
“Secara kumulatif ekonomi Jawa Timur terkontraksi lebih dalam dibanding ekonomi nasional yang terkontraksi sebesar -2,07 persen, kata Kepala BPS Jatim Dadang Hardiwan dalam rilis secara virtual, Jumat (5/2/2021).
Sementara jika dilihat dari kuartal IV 2020 secara (q-to-q) ekonomi Jawa Timur terkontraksi 0,94 persen.
“Namun dibanding triwulan IV pada 2019, ekonomi Jatim terkontraksi lebih jauh lagi yakni 2,64 persen, “jelasnya.
Jika dilihat dari sisi produksi, sebagian besar lapangan usaha mengalami kontraksi. Namun demikian, ada beberapa lapangan usaha yang masih tumbuh tinggi, diantaranya Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 9,83 persen, diikuti Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 8,70 persen, serta Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang sebesar 5,03 persen.
Peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur secara c-to-c cukup signifikan terjadi pada Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 9,83 persen. Kondisi ini terutama didorong adanya pemberlakuan WFH (Work From Home) dan SFH (School From Home) sehingga meningkatkan trafik data provider seluler serta meningkatnya penggunaan aplikasi rapat virtual seperti Zoom Meeting, seminar daring/webinar juga turut mendukung kinerja ekonomi Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi.
Optimisme pertumbuhan ekonomi Jawa Timur ke depan akan semakin membaik terlihat dari data statistik yang menyebutkan jika Jawa Timur menjadi provinsi penyumbang ekonomi terbesar kedua di Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar 24,80 persen meski dari sisi pertumbuhan ekonomi 2020 terkontraksi -2,39 persen. Kontribusi Jatim terhadap perekonomian pulau Jawa Lebih tinggi dari Jawa Barat yang hanya sebesar 22,52 persen dan Jawa Tengah sebesar 14,54 persen. Adapun DKI Jakarta masih menjadi penyumbang perekonomian terbesar kedua di Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar 29,90 persen. (bee)






