
primaradio.id – Indonesia merupakan Negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat besar terutama tanaman obat yang bisa dijadikan obat herbal.
Direktur Standardisasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Drs. Tepy Usia, Apt. M.Phil., Ph.D mengatakan Indonesia memiliki lebih dari 30 ribu jenis tumbuhan obat. Namun baru 300 industri jamu yang memanfaatkan kekayaan alam Indonesia ini.
“Alam Indonesia kaya. Ada 30 ribu jenis tumbuhan obat. Yang baru dimanfaaatkan kurang lebih 300 industri jamu. Butuh penelitian lebih lanjut, “ungkap Tepy usai Seminar Standarisasi Herbal, Makanan dan Minuman Sehat Indonesia, Sabtu (23/2) di Universitas Katolik Darma Cendika Surabaya.
Tepy juga mengatakan sampai saat ini ada lebih dari 9 ribu produk jamu terdaftar yang memanfaatkan tanaman herbal asli Indonesia.
Merupakan peluang besar bagi industri obat herbal untuk memenuhi layanan kesehatan masyarakat Indonesia. Karena pada intinya menurut Tepy, masyarakat Indonesia inginkan obat yang terjamin mutunya, aman dan murah. “Obat murah kan harusnya bahan bakunya murah. Itu harus berasal dari Indonesia, “kata Tepy.
Agar dapat dipakai secara ilmiah oleh dokter dan diterima lebih luas di dunia kedokteran, BPOM sudah berupaya meningkatkan penelitian agar obat herbal menjadi produk Obat Herbal Terstandar (OHT) yang sudah melalui uji pra kilinik lewat hewan.
“Ada 62 OHT sudah terdaftar di BPOM seluruh Indonesia, “tambah Tepy.
BPOM pun menggolongkan obat herbal terstandar ini dalam kategori Fitofarmaka agar lebih meningkatkan penggunaannya dan dapat digunakan oleh dokter dan manusia.
“Fitofarmaka sudah melalui uji pra klinik hewan dan uji klinik dan bahannya sudah terstandarisasi, urai Tepy.
Sampai sekarang ada 21 Fitofarmaka yang didaftar di BPOM. Fitofarmaka menurut Tepy sudah setara dengan obat karena sudah melalui uji klinik.
Adapun BPOM terus mendorong agar semakin banyak Fitofarmaka dengan membentuk konsorsium pengembangan dan pemanfaaatan Fitofarmaka.
Selain agar Fitofarmaka lebih diterima di masyarakat dan dunia kedokteran, BPOM juga mendorong agar Fitofarmaka bisa masuk BPJS dan JKN.
“Nanti kita akan bicarakan dengan Menteri Kesehatan, “pungkas Tepy. (bee)





