Home Prima Trending Topics BMKG : Puncak Musim Hujan, Waspada Bencana Hidrometeorologi

BMKG : Puncak Musim Hujan, Waspada Bencana Hidrometeorologi

677 views
0
SHARE
Sejumlah anak bermain hujan di kawasan Jalan Balikpapan, Jakarta, Senin (4/5). Menurut data BMKG, saat ini telah berlangsung masa peralihan musim atau pancaroba dari musim hujan ke musim panas dimana kondisi tersebut memicu cuaca yang tak menentu, seperti cuaca panas di pagi hari dan hujan deras disertai angin kencang di sore hari. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ed/Spt/15

primaradio.id – Sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam puncak musim hujan sehingga peningkatan intensitas curah hujan masih terjadi. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Yunus S. Swarinoto mengatakan potensi curah hujan tinggi masih terjadi pada periode bulan Februari ini. Potensi hujan lebat harian dapat meningkatkan peluang terjadinya bencana Hidrometeorologi.

Meskipun demikian, frekuensi hujan yang cenderung meningkat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lokal. Sedangkan secara umum sejak bulan Januari tidak terdapat fenomena cuaca global yang signifikan seperti Indian Ocean Dipole (IOD), seruakan dingin, maupun gelombang tropis yang hampir seluruhnya dalam kondisi netral. Sehingga pada periode kali ini sangat perlu memperhatikan perkembangan dinamika cuaca lokal dan regional.

“Dari tinjauan kondisi atmosfer beberapa hari kedepan terdeteksi adanya aliran udara basah dari Samudera Hindia yang menyebabkan wilayah Sumatera bagian Selatan, Banten, Jawa Barat, dan Jabodetabek cenderung dalam kondisi yang cukup basah. Munculnya area perlambatan dan pertemuan angin mengakibatkan kondisi udara menjadi tidak stabil sehingga menyebabkan potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat dan petir, kata Yunus dalam siaran pers yang diterima Primaradio, Senin (20/2/2017)

Kondisi tersebut didukung dengan kuatnya monsun Asia yang menyebabkan batas wilayah udara basah terkonsentrasi di sekitar pesisir selatan Jawa.

Suhu muka laut (SML) di Samudera Hindia Selatan Jawa Barat tanggal 12-19 Februari 2017 berkisar antara 28 – 30 °C, dengan anomali SML 2 – 4 °C. Kondisi ini mengindikasikan suplai uap air sebagai pendukung pertumbuhan awan hujan di wilayah Jawa Barat dan Sumatera relatif tinggi. Nilai kelembaban relatif di wilayah Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Papua Barat pada lapisan 850 dan 700 mb umumnya bernilai > 70 %, menunjukan bahwa kondisi udara basah yang berpotensi terhadap pertumbuhan awan-awan hujan cukup signifikan di wilayah tersebut.

BMKG memperkirakan potensi hujan akan meningkat dalam beberapa hari kedepan, khususnya di wilayah pantai barat Sumatera, Sumatera bagian utara, Sumatera bagian selatan, Bengkulu, Riau, Lampung, Banten, Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi bagian Tengah, Sulawesi bagian Selatan, dan sebagian besar Papua.

Terkait dengan hal tersebut, masyarakat diharapkan tetap mewaspadai potensi peningkatan curah hujan yang dapat disertai angin kencang dan berpotensi mengakibatkan terjadinya banjir, tanah longsor, banjir bandang maupun genangan. (bee/joe)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here