primaradio.id – Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.
Ketika Amerika Serikat dan Korea Selatan mengadakan pelatihan perang gabungan, Korea Utara berang. Mereka ‘membalasnya’ dengan latihan militer besar-besaran, terbesar sepanjang sejarah, bahkan. Jepang, yang merupakan negara tetangga dekat, ketar-ketir. Jika perang Korea pecah, bisa dipastikan negara Matahari Terbit ini terkena dampaknya. Perusahaan penyedia bungker untuk melindungi orang dari bahaya bom nuklir laris dipesan. Saat Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman, menyebut bahwa pemimpin Korea Utara Kim Jong-un gila, suhu makin memanas. Pyongyang pun naik pitam. Korea Utara balas mengancam untuk mengirimkan nuklirnya ke sana. Dunia dilanda ketakutan pecahnya perang dunia ketiga.
Di tengah situasi yang menegangkan ini, sebuah drama Korea kembali ditayangkan lewat situs online, setelah pada tahun 2016 berhasil nge-hits dan menyedot banyak pemirsa. Descendants of the Sun. Di tengah dunia yang ketakutan akan terjadinya perang dunia ketiga yang dipicu ketegangan Korea Utara – Korea Selatan, drama ini bisa meneduhkan ketegangan karena menyuguhkan percintaan antara tentara dan dokter.
Sekilas tentang Descendants of the Sun
Bagi yang belum menonton, saya menerjemahkan ringkasan ceritanya dari Wikipedia. Bagi yang sudah, biarlah ini menjadi pengingat kembali kisah yang mengharu biru ini.
Kapten dari Pasukan Khusus Korea Selatan, Yoo Shi-jinn bersama rekannya, Sersan Kepala Seo Dae-yeong menangkap seorang pencuri motor, Kim Gi-beom. Pencuri itu terluka saat proses penangkapan dan dibawa ke rumah sakit. Dae-young menyadari bahwa hape-nya diambil oleh si pencuri dan pergi ke rumah sakit bersama Shi-jin untuk mengambil kembali handphone-nya.
Di ruang UGD, Shi-jin berjumpa Dr. Kang Mo-yeon untuk pertama kali dan langsung tertarik dengannya. Mo-yeon menganggap Shi-jin merupakan bagian dari gerombolan kriminal karena nama panggilannya ‘Big Boss’, yang sesungguhnya adalah nama sandinya. Dengan pertolongan dokter bedah Yoon Myeong-ju, Shi-jin membuktikan dirinya seorang prajurit.
Shi-jin dan Mo-yeon mulai berpacaran, namun karena pekerjaan masing-masing, pacaran mereka sering terganggu. Shi-jin menerima perintah untuk memimpin pasukannya dalam misi perdamaian di negara Urk. Sementara itu, Mo-yeon sedih karena gagal menjadi profesor disebabkan ‘keuntungan istimewa’ yang dimiliki rekannya. Ketika Shi-jin dan Mo-yeon berjumpa kembali, mereka bicara tentang pandangan hidup masing-masing dan menyadari betapa berbedanya mereka. Shi-jin, seorang prajurit, membunuh untuk melindungi kehidupan, sementara Mo-yeon, sebagai dokter, menghormati Sumpah Hippokrates dan berusaha menyelamatkan nyawa. Karena perbedaan pandangan hidup inilah, mereka sepakat mengambil jalan sendiri-sendiri.
Delapan bulan kemudian Mo-yeon menolak ajakan berhubungan seks direktur rumah sakit. Akibatnya dia ditugaskan untuk memimpin tim medis ke Urk. Di sana, Shi-jin dan Mo-yeon bertemu kembali. Melalui perjumpaan di Urk – yang terkena bencana gempa dan epidemik – cinta mereka bertumbuh makin kuat. Sementara di Urk, Mo-yeon secara tidak sengaja mengakui perasaannya dan keduanya mulai berpacaran secara resmi.
Saat kembali ke Korea, keduanya meneruskan hubungannya sampai Shi-jin dan Dae-young dikirim ke wilayah operasi baru. Di sana mereka menghilang dan dianggap mati. Bulan demi bulan berlalu, Mo-yeon meratapi kematian kekasihnya. Untuk memperingati kematian kekasihnya, sekaligus melupakan kesedihannya, dia ikut menjadi relawan ke Albania. Di sinilah Shi-jin akhirnya menemukan kekasihnya kembali setelah dia dan Dae-young diselamatkan dari penahanan oleh ‘seorang sahabat dari jauh’, yaitu dari Korea Utara yang pernah diselamatkan oleh Shi-jin sebelumnya. Shi-jin dan Mo-yeon bersama Myeong-ju dan Dae-young hidup berbahagia setelah dipersatukan kembali.
Empat Pelajaran Indah dari Descendants of the Sun
Bukan kebetulan jika saat saya menulis artikel ini, kita sedang memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Mei. Ada 4 hal yang bisa kita pelajari dari Descendants of the Sun jika dihubungkan dengan Hari Pendidikan Nasional ini:
1. Olah Hati
Cinta, seperti dalam Descendants of the Sun, bisa datang kapan saja dan di mana saja. Saat menoleh ke belakang ketika saya masih remaja, saya bisa tersenyum kembali. Waktu itu saya punya banyak sahabat pena. Sebagian besar orang luar negeri, bahkan gadis dari Jerman Timur sebelum Tembok Berlin runtuh. Namanya remaja, saya pun mengalami apa yang disebut cinta monyet – kalau sudah besar dan dewasa kan cinta kingkong hehehe … – Jadilah LDR. Long Distance Relationship.
Pada zaman itu, hanya surat andalannya. Waktunya pun lama. Saling undang pun terjadi, tetapi tidak pernah kesampaian karena satu ini: Cintaku berat di ongkos. Wkwkwk.
2. Olah Rasa
Cinta tidak memandang profesi. Seorang tentara yang tugasnya ‘membunuh untuk melindungi’ bisa saja jatuh cinta dengan dokter yang tugasnya ‘menyelamatkan jiwa berapa pun harganya.’ Saya sendiri seorang tentara dengan senjata laptop, sementara mantan pacar saya yang sekarang jadi istri saya adalah ‘bakul jamu’ di rumah sakit.
Jika setelah kita olah, ternyata rasa kita sama atau selaras, maka masakan cinta kita pun siap tersaji di meja pelaminan.
3. Olah Pikir
Tidak memandang besarnya tantangan, cinta selalu menemukan cara untuk melaluinya. Halangan sebesar apa pun, kalau cinta sudah membara, otak di kepala pasti berusaha keras untuk menemukan jalannya.
Sepasang muda-mudi menemui saya. Sang suami seorang dokter keturunan Tionghoa, sedangkan pacarnya gadis Batak. Permasalahannya, ayah si gadis tidak mengizinkan anaknya pacaran dengan pemuda beda etnis. Wajah ayah si gadis – yang seorang tentara itu – membuat ciut hati pemuda ini. Apalagi ada gertakan, “Kalau berani datang lagi akan saya tembak!’ – menurut saya itu bisa jadi gertak sambal, tentara biasanya tidak menembak sembarangan karena terikat oleh Sumpah Prajurit. Apa yang harus mereka lakukan?
“Apa kesukaan calon papa mertuamu?” tanya saya.
“Catur, Pak Xavier,” ujarnya.
“Kalau begitu, setiap kali datang berkunjung, untuk sementara waktu, jangan temui gadismu, tetapi ajak beliau main catur.”
“Terus, saya pura-pura ngalah gitu? Soalnya saya lumayan jago.”
“Lho, jangan. Engkau berpikir keras untuk mengalahkannya.”
“Kok?”
“Kalau you kalah terus. Siapa yang mau dapat menantu bodoh?”
Rupanya ‘resep’ saya itu cespleng. Belakangan, istrinya menemui saya dan berkata bahwa sekarang suaminya menjadi menantu paling dikasihi keluarga besarnya.
4. Olah Raga
Shi-jin dan Mo-yeon dalam membangun cintanya membutuhkan stamina yang kuat dalam arti yang sebenarnya. Mereka berpindah dari satu medan pengabdian ke medan pengabdian berikutnya. Tanpa fisik yang kuat, mereka pasti menyerah. Namun, tentara dan dokter, memang dilatih untuk memiliki fisik yang tahan uji. Aldrich dan Nancy, dua dokter sahabat saya yang menjalani konseling pranikah dengan saya, berkata, “Kalau sudah tugas jaga, kami bisa melekan [tidak tidur] sampai 36 jam!” Kalau tentara, jangan tanya lagi. Mereka rata-rata punya fisik yang kekar.
Namun, di atas semua itu, pada akhirnya,
cinta yang tuluslah yang akan menemukan jalannya!
“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.”
– St. John






