Karena tidak semua pertanyaan perlu ditanyakan.
primaradio.id – Seorang pemuda galau berat. Salah satu bibinya, setiap kali ada upacara atau pesta pernikahan, selalu bertanya, “Kapan giliranmu?” Mula-mula pertanyaan yang provokatif itu ia biarkan saja, namun lama-lama mengganjal juga. Hati yang terganjal membuatnya mangkel. Mau menegur, segan. Masa tidak sopan terhadap orang tua? Dibiarkan? Hati sakit.
Suatu kali ketika ada upacara pemakaman anggota keluarga, tiba-tiba muncul ide brilian. Sebelum bibinya mendekati dan menepuk punggungnya – seperti kebiasaannya – dan menanyakan, “Kapan giliranmu?” pemuda itu melangkah ke bibinya, menepuk pundak sang bibi lembut dan bertanya, “Kapan giliran Bibi?”
Sejak saat itu bibinya tidak pernah lagi bertanya, “Kapan kamu menikah?” atau “Kapan giliranmu?” Nah, jika ada di antara Anda yang mempunyai kebiasaan bertanya kepada para jomblo, “Kapan kamu menikah?” marilah hentikan pertanyaan itu.
Inilah 3 alasan mengapa kita tidak boleh bertanya seperti itu:
1.Mengganggu Privacy
Tidak setiap orang senang ditanya hal-hal pribadi semacam itu. Ketika masih menjadi pemimpin redaksi majalah bulanan populer, saya pernah menemani seorang wartawan baru mewawancarai seorang tokoh pendidikan. Saat itu, pendidik itu bicara tentang tata cara pernikahan dari berbagai bangsa yang sama-sama ribet dan rumit. Tiba-tiba teman saya bertanya, “Bagaimana tata cara pernikahan Bapak dulu?” Pendidik itu terdiam sejenak, memandang kami dengan sorot mata yang sulit digambarkan, baru kemudian menjawab, “Saya kan tidak menikah?” Suasana wawancara yang semula lancar jadi beku. Lidah kami terasa kelu.
Peristiwa ini memberi hikmat:
tidak semua pertanyaan perlu ditanyakan.
Baca Juga: Inilah 5 Jawaban Terbaik untuk Menjawab Pertanyaan, ‘Kenapa Kamu Belum Punya Pacar?’
2.Menimbulkan Rasa Tidak Nyaman
Kita merasa pertanyaan itu biasa, wajar, atau pembuka pembicaraan, tetapi pernahkah kita berpikir bahwa pertanyaan itu justru bisa membuatnya tidak nyaman bertemu kita atau bahkan membuatnya sakit hati. Coba jika posisinya dibalik. Anda yang sedang menjomblo dengan jodoh tak kunjung tiba, lalu ada orang dengan begitu gampangnya bertanya, “Kapan kamu menikah?” Apakah tidak menyakitkan? Pacar saja belum punya, sudah tanya pernikahan!
3.Membuat Jomblo Merasa Bersalah
Menikah atau tidak, sekarang atau nanti, merupakan pilihan pribadi.
Tak seorang pun – khususnya yang tidak ada hubungan keluarga sama sekali – berhak mencampuri. Keluarga sekalipun harus berhati-hati dalam hal ini. Para jomblo yang kita cintai justru merasa sakit hati dengan pertanyaan seperti itu. Yang lebih parah, para jomblo itu bisa berkesimpulan bahwa jadi jomblo itu merupakan dosa besar. Siapa yang bilang? Tuhan saja mengizinkan orang-orang tertentu – karena kemauan sendiri atau panggilan hidup – memilih menjomblo. Kedua kakak saya – kakak perempuan dan laki-laki – memilih untuk tetap sendiri karena alasan mereka sendiri. Sampai hari ini saya tidak pernah bertanya, “Kak, mengapa kalian tidak menikah?”
Karena saya mengasihi mereka, maka saya tidak mengajukan pertanyaan itu.
Sebaliknya, ada 3 ucapan lain yang justru menolong mereka:
1.Jika Engkau Memerlukanku, Aku Siap
Pernyataan ini adalah pernyataan kepedulian. Di balik kalimat itu ada tawaran yang menyejukkan. Tanpa paksaan – artinya jika dia membutuhkan – kita siap membuka tangan. Jika tidak? Biarkan mereka sendiri. Jika mereka butuh bantuan kita, tetapi tidak sekarang, it’s okay.
2.Eh, Ada Teman yang Tertarik Denganmu. Mau Aku Kenalin?
Pertanyaan ini memberi kesempatan kepadanya untuk menjadi dirinya sendiri. Jika dia merasa belum waktunya, dia bisa menolak tanpa sungkan dan segan. Sebaliknya, jika dia siap, dia bisa berkata, ‘Ya’ tanpa rasa malu.
3.Ada Seminar tentang Relationship Goals. Kayaknya Bagus. Mau ikut?
Mirip dengan poin nomor dua di atas, kita membuka peluang tanpa nada menyerang. Apalagi kita juga tertarik dengan seminar itu. Kita tidak menganggapnya sebagai obyek yang butuh seminar semacam itu, melainkan subyek. Tawaran di atas memberinya kesempatan untuk menimba ilmu tentang hubungan sekaligus menambah jaringan pertemanannya. Apakah ada di antara sahabat baru itu yang nantinya berlanjut ke hubungan yang lebih tinggi levelnya, itu urusan dia.
Jadi, from now on, stop asking, “Kapan kamu menikah?”
Sangat mengganggu, tahu?!






