primaradio.id – Amerika Serikat akan mengukir peristiwa bersejarah pada Selasa 8 November 2016, yang mana setiap warga negara AS akan memilih seorang Presiden untuk periode lima tahun ke depan. Dua sosok bersebrangan, Donald Trump (Pratai Republik) dan Hillary Clinton (Partai Demokrat) akan saling bertarung untuk memperebutkan kursi AS 1.
Kendati demikian, nampaknya pemilihan presiden periode kali ini tidak begitu banyak mendapat perhatian dari warga AS. Selain dua kandidat yang dinilai bukan figur populer, kebijakan yang diambil dua capres tersebut juga dianggap berbeda, dan cenderung kontroversial. Hal ini yang membuat pilpres kali ini berpeluang minim antusias masyarakat.
Dikutip dari BBC, Untuk Trump ketidakpuasan warga antara lain disebabkan oleh pandangan-pandangannya selama masa kampanye yang ‘membelah’ masyarakat. Sementara Hillary Clinton awalnya cukup populer ketika menjabat Menteri Luar Negeri namun sebenarnya sejak dulu sudah sering menjadi sasaran serangan bersama suaminya, Bill Clinton, ketika masih menjabat presiden.
Terlepas dari hal itu, siapapun yang nanti akan menjadi Presiden Amerika Serikat, jelas menentukan posisi AS di Global. Pasalnya, kebijakan luar negri yang diambil pemenang pilpres akan berdampak pada negara-negara yang menjadi sekutu atau bahkan musuh Amerika. Trump sendiri sempat memberi sinyal bahwa dia bisa memperbaiki hubungan AS-Rusia. Sementara Hillary Clinton seperti ingin memperbaiki citra AS di Timur Tengah dengan mengamini keterlibatan AS terkait kelompok ISIS. (Joe)






