Tidak ada murid yang bodoh, yang ada adalah guru yang malas untuk mengajar.
primaradio.id – Judul di atas tampak aneh? Ya dan tidak. Anda menjawab ‘Ya’ jika merasa bahwa anak pintar kok diajar? Jika Anda menjawab ‘Tidak!’, Anda sudah paham, bahwa setiap anak sebenarnya pintar, hanya kita yang belum pintar mengajarnya. Saya pernah membaca kata-kata bijak, entah di mana dan kapan, yang kira-kira bunyinya seperti ini: “Tidak ada murid yang bodoh, yang ada adalah guru yang malas untuk mengajar.” Ingat, Thomas Alva Edison pun dulu dianggap bodoh dan dikeluarkan dari sekolah. Siapa yang mengajar anak pintar ini jadi pintar? Ibunya! Melalui curhatan ini saya ingin berbagi tentang pengalaman saya – dan terutama istri saya – dalam mengajar anak saya. Untuk pintar mengajar anak pintar ternyata sesederhana ini.
Sekolah Masa Depan
Ketika wisuda pascasarjana dulu, saya dipanggil kedua kalinya untuk mendapatkan penghargaan sebagai lulusan terbaik. Peristiwa yang seharusnya membuat saya bangga dan senang ternyata menyisakan tanda tanya dan rasa tidak tenang. Mengapa? Karena saya merasa ada mahasiswa lain yang lebih pintar dan rajin daripada saya. Di tengah kegelisahan seperti itu, saya diajak seorang profesor mengunjungi sebuah sekolah khusus di Australia. Staf ahli menteri pendidikan itu mempertemukan saya dengan kepala sekolahnya. Kami diajak berkeliling.
Seperti Achimedes, saya mengalami ‘Aha Moment’ saat mengetahui cara sekolah itu menerapkan juara kelas bagi murid-muridnya. Bukan hanya ada satu juara kelas, tetapi banyak: juara matematika, olahraga, seni, dan sebagainya. Eureka! Inilah jawaban dari kegelisahan saya. Jika lulusan terbaik tidak hanya satu maka akan jauh lebih adil karena kita tidak bisa jago di semua bidang. Bisa jadi saya didapuk menjadi lulusan terbaik karena mata kuliah tertentu yang bobotnya tinggi, sehingga secara akumulatif meningkatkan IPK saya, padahal jika diadu satu per satu, saya kalah di mata kuliah lainnya.
Dengan kesadaran seperti itulah saya mencoba berbagi cara pintar mengajar anak pintar.
1. Kepintaran Anak Berbeda-Beda
Anak yang jago matematika dan fisika jangan-jangan kedodoran di bidang seni dan olahraga. Anak yang fasih mengarang ternyata jeblok di pelajaran kimia. Bintang di lapangan basket ternyata bengong di laboratorium. Yang hebat di biologi ternyata keok di sejarah.
Dengan kesadaran inilah kita diperhadapkan dengan dua pilihan. Pertama, menggenjot anak untuk belajar mati-matian di bidang yang kurang dia kuasai dengan harapan nilainya membaik. Kedua, kita lebih fokus untuk meningkatkan kelebihannya sehingga anak itu semakin jago di bidang yang memang dia kuasai.
Saya memilih yang kedua. Bukan berarti saya membiarkan pelajaran yang lemah semakin lemah. Tidak. Namun, secara sengaja saya memilih lebih fokus untuk membuat pelajaran yang dia kuasai semakin meningkat. Toh kita memang tidak bisa ahli di semua bidang. Bagaimana caranya?
2. Kuasa Kata-Kata Kita
Ketimbang menggunakan kata-kata negatif seperti bodoh, bloon, malas, nakal, telmi, madesu, dan sebagainya, alangkah baiknya jika kita menggantinya dengan kalimat seperti ini, “Jika engkau belum mengerti, nggak apa-apa. Engkau hanya perlu belajar sedikit lebih lama.”
3. Daya Lekat Bernama Pengalaman
Benjamin Franklin pernah mengucapkan kata-kata yang luar biasa, “Tell me and I forget. Teach me and I remember. Involve me and I learn.” Kalau kita hanya memberitahu anak-anak kita, mereka akan cepat lupa. Seberapa sering kita menggerutu atau bahkan membentak anak, “Berapa kali Papa katakan kepadamu?” Sebaliknya, anak-anak justru memiliki daya lekat yang kuat kalau kita melibatkan mereka.
Setiap kali bertugas keluar negeri, saya sering membelikan peralatan untuk eksperimen di rumah seperti mikroskop. Saat saya hendak mengajar bahwa fokus menghasilkan kekuatan, saya bawa anak saya di bawah terik sinar matahari, saya ambil daun kering dan memegang surya kanta di atasnya. Saya meminta anak saya menggeser-geserkan kaca pembesar – mendekati dan menjauhi obyek berupa daun itu – untuk menemukan titik fokus yang pas. Begitu titiknya mengecil, tidak lama kemudian, daun itu mengeluarkan asap dan terbakar. Sejak saya libatkan dalam percobaan kecil-kecilan semacam itu, anak saya semakin memahami ilmu pengetahuan.
4. Self-Fulfilling Prophecy
Jika anak terus-menerus dibombardir dengan kata-kata negatif, bisa jadi saat besar kelak dia menjadi seperti itu karena internal belief-nya terbangun.
Sebaliknya, jika kita menggunakan kata-kata positif yang membangun, anak jadi punya rasa percaya diri untuk mencoba. “Toh kalau gagal, Papa tidak akan memarahi saya,” ujarnya.
5. Hadiah Kecil Berdampak Besar
Setelah mendapatkan dorongan semacam itu dan nilainya membaik, kita sudah selayaknya memberinya apresiasi. Apresiasi yang baik bukan seperti umpan untuk ikan, tetapi lebih ke arah dorongan semangat untuk melakukan yang lebih baik lagi.
“Yos, jika engkau bisa mengerjakan ujian dengan baik, engkau akan merasa nyaman,” itulah yang sering saya katakan kepada anak bungsu saya.
Saya lalu mengajaknya ke toko buku untuk membeli buku-buku yang dia sukai, karena anak bungsu saya memang kutu buku. Saya memutuskan untuk memberi hadiah yang bisa memberinya makanan yang bergizi untuk leher ke atas, bukan leher ke bawah. Dengan memberinya hadiah buku, saya harap wawasannya berkembang. Sebaliknya, hadiah untuk leher ke bawah [baca: makanan] justru membuat perutnya yang mengembang.
Hadiah lain yang baik untuk membuat anak pintar semakin pintar adalah mengajaknya jalan-jalan. Ketika Yosafat masih kecil, saya sering mengajaknya mencari keong emas di sawah. “Keong ini bisa jadi hama, tetapi juga bisa kita jadikan lauk,” ujar saya. Saya meminta ART untuk memasaknya. Setiap kali saya mendapat undangan bicara di luar negeri, saya usahakan agar waktunya bertepatan dengan liburan sekolah sehingga saya bisa pergi satu keluarga. Toko buku, perpustakaan, museum, dan science center merupakan menu wajib. Karena anak saya suka segala sesuatu yang berbau angkasa, saya mengajaknya ke pabrik Boeing di Seattle. Untuk memuaskan keinginanannya akan iptek, saya ajak dia ke Innovation Center. Agar tahu masa lalu, American Museum of Natural History, New York, kami kunjungi. Yosa begitu antusias di dalam karena sebelumnya kami nonton Night At The Museum yang mengambil lokasi shooting di situ. Di dalam kesempatan yang berbeda, kami kunjungi tempat-tempat shooting film-film terkenal seperti Jumanji, Batman dan Men In Black. Tujuannya? Agar dia bisa menghubungkan apa yang telah dia lihat di film dan kondisi sebenarnya di lapangan.
Piala bagi Sang Raja
Untuk apa kita berjerih lelah seperti itu? Apa pahalanya?
Ini: kita merasakan kepuasan sejati saat melihat anak-anak bertumbuh sesuai kapasitas mereka.
Masing-masing anak punya kapasitas sendiri-sendiri. Kalau jadi juara kelas? Itu bonus saja. Ketika Yosa lulus SD dengan nilai ujian nasional tertinggi di sekolah, saya lihat wajah istri saya berseri-seri, karena dialah yang jauh lebih berperan dalam mendidik anak saya ketimbang saya. Istri saya jauh lebih telaten untuk mendampingi anak saya belajar di rumah. Bagi saya, yang terpenting adalah sudah melaksanakan perintah Sang Khalik untuk mengembangkan kapasitas anak sesuai talentanya. Jadi, piala juara memang seharusnya untuk Sang Raja!






