Home Rumah Sastra Om Telolet Om: Inilah 3 Suara Anak-Anak yang Perlu Kita Dengar

Om Telolet Om: Inilah 3 Suara Anak-Anak yang Perlu Kita Dengar

815 views
0
SHARE

Anak-anak bukan baper lalu caper, tapi cuper – mencuri perhatian – dengan kreativitas yang seringkali justru membuat kita kagum.

primaradio.id – Di saat media massa cetak maupun elektronik ramai membicarakan Densus 88 melakukan operasi penangkapan terduga teroris dan penyisiran bom, anak-anak di Jepara, Rembang, Jawa Tengah justru mencuat ke panggung dunia. Ulah anak yang kemudian menjadi viral itu sederhana saja. Mereka meminta sopir-sopir bus yang lewat di depan mereka untuk membunyikan klakson yang berbunyi ‘Telolet’, merekamnya di hape mereka dan mengunggahnya ke media sosial. Dunia pun gempar.

Apa yang anak-anak itu ingin sampaikan sebenarnya? Inilah 3 suara anak-anak yang seharusnya kita dengar.

1.Anak-anak tidak hanya mau ditegur tapi dihibur

Kita para orangtua seringkali hanya bisa menegur anak-anak kita saat mereka ngelantur atau bertindak ngawur, tetapi pernahkah kita menyediakan waktu untuk menghibur mereka? Bukan hanya kita yang bisa sedih, stres dan tertekan, anak-anak zaman sekarang pun mengalami hal yang sama. Ujian nasional yang tidak jelas kapan dimulainya, waktu yang mepet dan pelajaran yang menumpuk membuat anak-anak bisa mengalami depresi jika tanpa rekreasi.

Jika mereka tidak mendapatkan hiburan di rumah, ke mana mereka akan pergi? Keluar rumah! Nah, jika mereka kemudian bermain-main di pinggir jalan dan mencari penghiburan dari sekadar mendengar suara klakson bus yang terdengar indah ketimbang ‘nyanyian’ orangtua mereka, mengapa harus disalahkan?

2.Anak-anak bosan dilarang tapi butuh diberi ruang

Saat pulang kerja, hujan turun dengan deras. Ketika hendak mendekati rumah saya, jalan di depan banjir. Tidak biasanya seperti itu. “Anak-anak ngawur kalau bermain,” ujar sopir saya. Ketika saya tengok dari jendela, saya melihat anak-anak berenang di pinggir jalan dan sedikit ke tengah. Yang kelihatan hanya kepalanya. Bayangkan. Di tengah arus lalu lintas yang padat, mereka berani berenang. Jika ada sopir yang tidak awas, bisa saja mereka dilindas.

Peristiwa itu mengenaskan. Mengapa mereka berenang di jalan? Karena kekurangan ruang untuk bermain. Kita bisa melihat anak-anak bermain di tempat-tempat yang berbahaya: di jalan raya, di rel kereta api, di bekas galian konstruksi gedung mangkrak. Berapa kali kejadian anak-anak yang tenggelam di kolam yang tidak dipagar dan tidak dijaga itu?

Ketimbang melarang mereka melakukan ini dan itu, bukankah lebih baik jika kita memberi mereka ruang untuk melakukan ini dan itu yang sesuai dengan keinginan kita serta nyaman bagi tumbuh kembang mereka?

3.Anak-anak bukan baper lalu caper, tetapi cuper

“Ah, dasar anak-anak yang caper!” Eit, hindari dulu komentar semacam ini.

Anak-anak tidak mudah baper. Kita orang dewasalah yang gampang baper, lalu caper.
Anak-anak ini justu cuper – mencuri perhatian – dengan kreativitas yang seringkali justru membuat kita kagum. Coba bayangkan, gara-gara Om Telolet Om ini saja, lini masa media sosial dibanjiri dengan berbagai macam komentar yang lucu dan menghibur.

Apa yang orang dewasa lakukan? Sekali lagi, melarang dan melarang. Saya baca menteri perhubungan mempertimbangkan untuk melarang sopir bus membunyikan klakson seperi itu. Dasarnya? Agar jalanan tidak macet. Anak-anak, sekali lagi, jadi korban. Hal sederhana, yang ternyata bisa membahagiakan mereka, dengan begitu cepatnya hendak diberangus lagi.

Mari belajar dari Dorothy Law Nolte yang dengan bijak menulis Children Learn What They Live yang sangat terkenal itu:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki;

Jika anak dibesarkan dengan kekerasan, dia belajar membenci;

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar rendah diri;

Jika anak dibesarkan dengan hinaan, dia belajar menyesali diri;

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diri;

Jika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargai;

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri;

Jika anak dibesarkan dengan perlakuan yang baik, dia belajar keadilan;

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan;

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinya;

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,

dia pun belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here