Apa yang sebenarnya betul-betul diperlukan bagi seorang anak untuk melanjutkan studi ke luar negeri? Persiapkan 3 hal ini saja. Demkian pula orangtua, siapkan 3 hal ini juga.
“Setelah menyelesaikan urusan administrasi, mengatur asrama dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-harinya, saya tinggalkan anak saya di sebuah boarding house di Singapura,” ujar seorang ibu kepada saya.
“Ketika hendak meninggalkannya, saya mendengar teriakan dan tangis anak saya. Tiba-tiba air mata saya tumpah. Saya merasa berat sekali meninggalkan anak sekolah di luar negeri. Jika saat itu saya menoleh, mungkin anak saya tidak akan sekolah di luar negeri. Saya akan ajak pulang kembali ke Indonesia karena tidak tahan,” ujar ibu itu lagi.
Mau sekolah di luar negeri atau mengirim anak sekolah ke luar negeri, butuh persiapan yang prima. Apa saja sih yang perlu kita siapkan jika kita atau anak kita hendak belajar di negeri orang? Bagi anak dan orangtua, pertimbangkan 3 hal berikut:
Bagi Anak
1. Persiapan Hati
Benarkah Anda ingin sekolah keluar negeri? Dasarnya apa? Motivasinya apa?
Jika hanya untuk keren-kerenan atau – yang lebih parah – ikut-ikutan teman atau karena gengsi, lebih baik jangan. Setelah lulus SMA dulu, seorang teman membanggakan diri kepada saya, “Ngapain sekolah di Indonesia? Saya mau nerusin ke New Jersey!” Saat itu saya kagum dengan kemampuannya. Lebih kagum lagi dengan kemampuan orangtuanya yang mampu menyekolahkan dia keluar negeri. Saya belum lulus S1 dari kampus di Surabaya saat bertemu lagi dengannya. “Saya pulang karena otakku tidak mampu kuliah di sana,” ujarnya malu-malu. Nah, jika hati – juga otak – sudah siap dan mantap, go ahead.
2. Persiapan Mental
Jangan sampai Anda mengalami gegar budaya. Jika Anda memilih untuk kuliah di Malaysia atau Singapura, culture shock yang Anda alami tidak seberapa. Namun, bagaimanapun juga, kedua negara itu – terutama Singapura – sangat meninggikan disiplin. Latih dirimu agar memiliki mental yang tidak mental [Jawa = terpelanting] karena tidak bisa menyesuaikan diri. Saya sering menegur orang yang membuang sampah lewat jendela mobil. Saya bahkan pernah bergurau dengan seorang teman, “Jika di negaramu, tong sampah ada di mana-mana, di negaraku tong sampah di mana saja!”
Persiapan yang paling penting adalah kemandirian.
Jika Anda tergolong ‘anak mama’, lebih baik batalkan keingingan untuk sekolah atau kuliah di luar negeri. Di luar negeri apa-apa harus kita lakukan sendiri.
3. Persiapan Akademis
Banyak orang yang sibuk belajar bahasa asing sesuai negara yang dituju tetapi melupakan yang paling penting: akademis.
Jadi, saran saya, jika Anda ingin sekolah di luar negeri, persiapkan baik-baik bukan sekadar nilai tetapi benar-benar menguasai materi. Saat Yonatan, anak saya, mau kuliah di Melbourne, di samping persiapan bahasa, dia juga mempersiapkan diri untuk wawancara akademis, di antaranya Fisika dan Matematika karena dia ambil jurusan engineering.
“Bisa Yo?” tanya saya.
“Bisa, Pa, karena sudah diajarkan di sekolah,” ujarnya.
Jadi, intinya, sebelum sekolah di luar negeri, sekolah sebelumnya sangat penting.
Untuk Orangtua
1. Persiapkan Sejak Dini
Kata ‘dini’ saya tekankan di sini. Artinya, benar-benar sejak kecil. Mengapa?
Anak yang diajar mandiri sejak kecil mempunyai peluang yang lebih besar untuk bisa sekolah di luar negeri dan lulus.
Sebagai orangtua yang sayang anak, kita memiliki kecenderungan untuk ‘memanjakan’ anak namun tidak merasa. Contoh, ketika anak mau membantu pekerjaan kita, kita merasa usia mereka belum mampu. Coba beri kesempatan mereka. Kita akan terkejut dengan hasilnya. Mungkin tidak sebagus jika kita yang melakukannya, namun, toh berhasil juga. Kemandirian ini akan sangat berguna kelak saat dia sekolah di luar negeri dan jauh dari orangtuanya.
Saya membiasakan anak saya untuk membereskan tempat tidurnya sejak SD. Tidak rapi? Tidak apa-apa. Biasanya mamanya yang merapikannya setelah itu. Saya juga mengajar anak saya untuk mencuci peralatan makan dan minumnya sendiri, meskipun ada asisten rumah tangga. Jadi, meskipun akhirnya ART pulang kampung, mereka tetap melakukan tugasnya. Ketika anak sulung saya sekolah di luar negeri, dia bahkan bekerja sebagai pelayan restoran. Gajinya dia pakai untuk membeli baju dan hobinya.
2. Latih Lidahnya
Lidah anak perlu dilatih dalam dua hal:
Pertama, soal makanan. Makanan di luar negeri jelas berbeda dengan makanan di Indonesia. Lidah anak terbiasa dengan masakan mamanya atau masakan ART-nya. Namun zaman sekarang, apalagi kita yang tinggal di kota besar, mengenalkan cita rasa internasional ke lidah anak sangat gampang. Gerai makanan dari berbagai negara dapat dengan mudah kita temukan.
Kedua, soal bahasa. Jika anak kita sekolah di negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris, kita lebih mudah melatihnya, karena sejak usia sekolah anak-anak zaman sekarang sudah belajar bahasa Inggris. Persoalan terjadi saat anak mau sekolah di negara yang bahasa pengantarnya non-Inggris. Kita perlu persiapan ekstra.
Beberapa bulan sebelum anak saya kuliah di Australia, saya masukkan les bahasa Inggris. Meskipun sudah ada pelajaran bahasa Inggris di sekolahnya, namun agar telinganya ‘terbiasa’ mendengar ucapan native speaker sehingga lebih mudah menyerap pelajaran. Dengan belajar kepada native speaker diharapkan lidahnya terasah untuk bicara dalam bahasa Inggris. Saat memilih tempat tinggal pun saya memilihkan orang sana agar setiap hari anak saya berlatih bahasa Inggris secara natural.
3. Latih Keterampilan Dasar
Keterampilan dasar di sini bukan masalah mandi, makan dan minum, tetapi lebih ke arah hidup mandiri di negara orang. Salah satu yang adalah mengajarkan bagaimana anak bisa berangkat dan pulang sekolah, mencari kebutuhan pribadinya sendiri serta hal-hal yang bersangkutan dengan akademisnya.
Ketika mengantar anak sulung saya ke ‘induk semangnya’ yang orang Italia, saya mengajaknya ke stasiun kereta api. Saya belikan kartu perdana dan mengisi dengan sejumlah uang agar bisa dipakai selama beberapa saat di sana. Dengan demikian, anak saya nanti bisa membeli dan mengisi ulang kartunya sendiri. Sebelum pulang ke tempat tinggal saya di city, saya berpesan, “Yo, besok kita ketemu di kota. Papa tunggu di dekat Flinders Station.”
Di atas semua hal di atas, inilah persiapan yang paling penting: kerohanian.
Kita bersyukur tinggal di Indonesia yang mengutamakan agama di setiap lini kehidupan. Namun, yang jauh lebih penting bukan pemahamannya, tetapi penerapannya. Kehidupan sehari-hari di luar negeri betul-betul mengagetkan bagi sebagian orang. Kalau kita jalan-jalan di Oxford Street, Sydney, atau di Times Square, New York, ciuman di muka umum menjadi hal yang sangat biasa.
“Pergaulan yang buruk,” ujar Sang Pemilik Kehidupan, “merusak kebiasaan yang baik.” Oleh sebab itu, pastikan diri kita atau anak kita berada di lingkungan yang tepat.
Ketika mengantar anak saya ke Melbourne, saya menitipkannya kepada sahabat saya yang dulu sama-sama melayani di Aussie.
Baca Juga: Cegah Anak dan Remaja Anda Berbuat Mesum dengan 5 Langkah Efektif dan Teruji Ini!
Selamat mempertimbangkan.
Siap? Go! Dunia terbuka lebar bagi kita!






